Senin, 20 Agustus 2012

Minah Tetap Dipancung


/1/
Aku genggam tasbih itu
Selalu.
Basah kuyub tasbih itu
Oleh air mataku
Selalu.
Tangan dan bibirku gemetar
Menciuminya
Selalu.

Ampun ya Allah, Ampun,
Aku hanya membela diri
Tak ada niatku membunuh
Bantu aku ya Allah.
Apakah ini dzikirku
Yang terakhir?
Berguncang-guncang dadaku.
Berdesakan dalam benakku:
Bayangan suamiku
Bayangan si kecil,
Anakku.
Ampun ya Allah, beribu ampun.
Tak henti-hentinya kusebut
Ahmad, suamiku
Aisah, anakku
Berulang-ulang kusebut
Asma Allah.
Aminah namaku,
Minah panggilanku, TKW asal Indonesia
Kerja di Saudi Arabia
Sebagai pembantu rumah tangga.
Kini aku sudah mati
Algojo memenggal leherku
Karena telah membunuh majikan
Yang berulang kali memperkosaku
Dan menyiksa jiwaku.
Dzikir itu kulakukan semalaman
Berharap masih ada mukjizat
Yang bisa menyelamatkanku;
Aku masih ingin hidup!
Namun, hukum dunia
Lebih kejam dari yang kuduga.
Kemarin aku mati
Dipancung, tepat di leherku.

/2/
Rasanya baru kemarin sore
Aku berdiri kaku
Mengintip bulan redup di langit Cirebon
Kota kelahiran yang tak lagi beri harapan.
Malam itu aku di samping suami tercinta
Menyusun rencana.
Sudah sekian lama suamiku nganggur
Anak perempuanku, delapan tahun,
Belum juga ia bersekolah
Aku belum bisa bayar uang iurannya.
Itulah awal tekadku bekerja ke Arab Saudi.
Kuyakinkan Suami ijinkan aku pergi,
Hidup perlu biaya.
Di depan cermin
Kuperhatikan rupa dan tubuhku –
Aku pantas hidup lebih baik.
Tekadku tak terbendung
Harapanku melambung
Membubung dibawa angin gurun:
Menjadi TKW aku!
Banyak temanku berhasil
Kerja di negeri itu,
Berkirim uang ke kampung
Renovasi rumah orang tua.
Meniru orang kaya Jakarta.
Ingin aku seperti mereka
Satu di antara sekian juta perempuan
Yang bekerja di negeri asing
Menjadi apa saja.1
Suamiku tak lagi bisa mencegah.
Bapakku menggadaikan sawah
(Yang nanti harus kutebus kembali)
Untuk calo
Untuk pelatihan
Untuk cek kesehatan
Untuk persekot pembekalan akhir
Untuk asuransi –
Empat juta rupiah
Melayang sudah
Dari tanganku.
Perusahaan tenaga kerja meyakinkan kami,
Uang sebegitu tiada arti
Dibanding gaji besar nanti.2
Aku protes dan bertanya,
Kamu korupsi, ya?
Kamu memoroti kami, ya?
Agen itu menjawab,
Barangkali Babe di atas sana yang korupsi, Bu.
Kita mah hanya cari seseran ala kadarnya
Buat tambahan istri belanja.
Ya, sudahlah, uangku telah raib entah ke mana –
Tapi aku bangga karena mereka
Menyebutku pahlawan devisa
Berjasa bagi negara.3
Akhir tahun 2010
Aku dan rombongan berangkat ke luar negeri
Dengan tujuan Arab Saudi
Negeri tempat orang berhaji.4

/3/
Tak ada seorang teman pun yang menjemputku
Ketika sampai di negeri asing itu
Padahal mereka sudah tiba lebih dahulu.
Kakiku ragu ketika melangkah
Masuk ke sebuah rumah.
Sepi.
Berkelebat wajah-wajah yang kusayangi:
Anakku,
Suamiku,
Orang tuaku;
Sekejap teringat sepetak sawah
Yang harus kubeli lagi nanti
Yang sudah digadaikan bapakku.
Air mataku pun menetes
Tapi buru-buru kuhapus
Saat tuan rumah menyambutku
Dengan dingin.
Aku kerja di keluarga Arab yang kaya-raya
Rumahnya 20 kali lebih luas
Dari rumah orang tuaku;
Toiletnya bagus
Lebih bagus dibanding ruang tamu kepala desa.
Majikan perempuan
Menunjukkan kamar tidurku,
Besar, bersih;
Jendela menghadap halaman belakang.
Rumah itu dikelilingi pagar terali
Yang kokoh dan tinggi.
Belum sempat aku merebahkan diri
Untuk melepas lelah
Majikan perempuan memanggilku;
Didiktekannya daftar panjang tugasku:
Memasak, mencuci, menyetrika,
Dan membereskan seluruh rumah.

/4/
Alhamdulilah!
Masakanku disukai dan dipuji,
Maklum aku perempuan kampung
Biasa menghabiskan waktu di dapur.
Hari-hariku bermekaran, seperti dalam mimpi
Seperti bunga-bunga pagar
Yang tak pernah terlewat kusirami.
Di halaman rumah itu selalu tumbuh keinginanku
Menyulap waktu agar cepat berlalu –
Terbayang olehku: uang yang nanti kudapat
Dari kucuran keringatku sendiri
Akan kukirim kepada Suami
Untuk menyambung hidup
Untuk menyekolahkan Anak.
Guru ngajiku di pesantren dulu mengajarkan
Agar aku bersikap sopan
Tahu tata cara dan bertutur kata.
Aku suka tersenyum –
Tapi celaka, majikan pria
Keliru mengartikannya
Dikiranya aku penggoda.
Mana mungkin aku berani?
Dan lagi, ha-ha-ha,
Suamiku lebih ganteng darinya.
Aku tidak paham budaya, terus terang saja,
Bagiku orang Arab dan Indonesia sama saja
Kan sama-sama Islam agamanya,
Dan menurut guru ngajiku
Senyum sama dengan sedekah nilainya.
Ketika majikan perempuan tidur lelap
Majikan pria mendekatiku
Rupanya ia berusaha merayuku;
Aku hanya bisa senyum
Tapi mulai merasa takut
Tak berani menatap matanya.

/5/
Dengan cepat zaman berubah.
Hari-hari berjalan sangat lambat, terasa lelah;
Kurindukan Suami yang tampak cemas
Di saat melepasku pergi.
Berulang kupanggil suamiku
Dalam hati.
Ahmad, ketika kita dekat
Aku menjauh cari rejeki
Ketika kita jauh
Aku ingin berada di sisimu.
Tiba-tiba aku takut, Ahmad.
Dan anakku yang mungil itu,
Yang suka minta uang jajan?
Tak terukur rinduku
Dan kupanggil Aisah buah hatiku,
Anakku Aisah, maafkan ibu
Tak bisa setiap hari menyuapimu.
Dulu ibu kira kalau kerja di negeri jauh
Akan membawa kebahagiaan bagimu,
Akan bisa menyekolahkanmu.
Tapi kini, wahai, Ibu merasa hampa dan jemu.
Mengumpulkan harta – itu tujuanku.
Tapi belum ada yang bisa dikirim sekarang.
Aku tak tahu bagaimana rasanya
Menerima gaji pertama – tapi kapan?
Tidak ada perjanjian.
Burung yang terkurung di sangkar emas
Masih tetap bisa bernyanyi
Tapi di rumah yang megah ini
Mulutku malah terkunci,
Tak ada siapa-siapa untuk berbagi cerita
Karena tak boleh keluar rumah.5
Hari dan tanggal tak lagi kutahu
Bekerja dan bekerja saja, terus-menerus menunggu,
Tak ada yang pasti bagiku.

/6/
Selepas pagi
Pekerjaan rutin telah selesai
Tinggal beberapa potong pakaian yang harus kusetrika;
Aku ingin salat Dhuha dulu.
Hari itu rumah sepi, majikan pria pergi bekerja,
Majikan perempuan entah ke mana.
Baru saja menggelar sajadah
Kudengar pintu pagar dibuka –
Majikan pria melangkah masuk.
Matanya nyalang menatapku:
Kuduga ia membayangkan
Apa yang ada di balik sarungku.
Ia bergerak mendekat
Memegang punggungku
Lalu meremas payudaraku.
Jangan, Tuan!
Aku berontak
Kuterjang ia –
Tapi ia perkasa
Menarik sarungku dengan paksa.
Ia tampaknya sudah gelap mata.
Aku berteriak sekuat-kuatnya
Kudorong tubuhnya
Sampai membentur dinding.
Tapi lelaki itu kembali mendekat
Menyebut beberapa patah kata bahasa Arab
Yang tak kupahami artinya.
Begitu sigap tindakannya
Seakan apa yang hendak dilakukannya
Tidak menyalahi aturan agama.
Aku terkesima
Aku tercampak
Aku terhina!
Aku ludahi mukanya,
Aku bukan budak
Aku bekerja di sini
Tidak untuk diperkosa.
Ia tak paham bahasa Indonesia
Dan aku juga tak bisa mengatakan apa pun
Dalam bahasanya.
Ia terus mendekat,
Aku kembali berteriak
Aku mengancamnya
Tapi semua itu lenyap begitu saja
Menguap di udara.
Aku melawan sampai kehabisan nafas
Sampai tenagaku habis terkuras –
Tak berdaya,
Aku kalah.
Tinggal tangis yang masih tersisa.
Usai menunaikan nafsu bejatnya
Ia lemparkan
Beberapa helai uang real.
Aku tak lagi punya tenaga.
Sekali terjadi,
Terulang dua kali,
Tiga kali,
Berkali-kali!
Ya, Allah, malang benar
Nasib hamba-Mu ini!
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti pernah ada sebuah zaman
Ketika budak boleh diperkosa majikan
Kebiasaan itu masih dipercayai oleh banyak orang
Di zaman Facebook dan Twitter sekalipun
Ia tak pernah membayangkan itu terjadi padanya)

/7/
Di dalam kamarku
Kalau tengah malam tiba
Aku lihat kotak itu:
Begitu banyak sudah real
Yang diberikannya
Setiap selesai memperkosaku.
Pernah aku tergoda
Untuk mengambil uang itu
Kukirim ke kampung halaman –
Keluargaku sudah lama menunggu itu
Sedangkan gaji tak kunjung dibayar.
Terbayang sepetak sawah
Yang bisa kutebus kembali dengan uang itu.
Terbayang sekolah dasar
Terbayang anakku Aisah berlarian dan berlajar.
Tapi kudengar lantang suara hatiku,
Jangan kaubohongi suamimu
Jangan kausekolahkan anakmu
Dengan uang si bejat itu!
Aku teringat dulu di pesantren
Guru ngaji mengajarkan
Agar patuh Suami
Agar berjuang mencari rejeki.
Aku pun melancarkan protes,
Kutegakkan kepala,
Gusti Allah,
Sudah kulakukan semua ajaran baik
Tapi mengapa tetap saja kena celaka?
Kau berjanji melindungi
Kaum tertindas, kaum yang lemah –
Aku ini lemah,
Sangat lemah.
Tak kutahu kenapa mulanya
Aku jadi sangat marah;
Aku teriak sangat keras
Dalam hati.
Ya, Gusti Allah
Kenapa begini jadinya?
Ampun, ya Allah.
Dan uang di kotak itu pun
Aku sobek
Satu demi satu
Sambil menangis
Dalam-dalam,
Tertahan.
Kubayangkan diriku sudah jadi gila!
Lama aku terbaring.
Mendadak kurasakan niat suci
Untuk memberontak.
Aku harus melawan
Apa pun yang akan terjadi.

/8/
Aku mencari jalan,
Mengadu kepada majikan perempuan
Berharap mendapatkan perlindungan.
Namun, bukan pembelaan yang kudapat
Malah penyiksaan berlipat-lipat.
Aku dituduh menggoda suaminya dengan senyumku.
Dan aku pun disiksa:
Tubuhku dicambuk
Rambutku dijambak
Pahaku diseterika.
Aku menjerit
Tapi jeritan-tangisku sia-sia
Wakil Indonesia di Arab sana6
Bekerja seperti biasa.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti bahwa tak semua TKW berperilaku baik
Ada juga yang sengaja menjadi pelacur
Dan merepotkan ibu rumah tangga dan polisi di sana)

/9/
Betapa sering aku ingin melarikan diri
Tapi takut tertangkap polisi.7
Pasporku pun dipegang majikan.8
Pernah terpikir aku melompat saja
Dari jendela lantai tiga –
Tapi setelah itu ke mana?
Ya Gusti,
Kenapa Kau-tinggalkan aku sendiri
Terkapar antara hidup dan mati?
Suatu malam kejadian itu kembali terulang.
Majikan menyelinap
Masuk kamar;
Kini aku harus melawan
Lebih dari biasanya.
Tak kuduga ia mengambil pisau
Komat-kamit bicara
Aku tak paham maknanya.
Secepat kilat ia kuasai diriku.
Astaga! Dijepitnya leherku
Dibekapnya mulutku –
Aku tak bisa bernafas.
Entah dengan kekuatan apa
Aku sebut nama Allah,
Aku rebut pisau itu
Kutancapkan tepat di perutnya.
Aku selamat dari sergapan
Tapi malam itu pula sirna sudah
Semua impian.
Ia terkapar, tak bernyawa.
Ya Allah…
Hanya itu yang terucap.
Aku hanya mempertahankan diri
Tapi ada yang mati.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti walau membela diri
Jika majikan mati di tangannya
Ia juga bisa mati – dipancung)
/10/
Harus kuhadapi pengadilan,
Tanpa perlindungan;
Hukum yang berlaku di negeri Arab
Nyawa berbayar nyawa.9
Pemerintah memberikan tanggapan
Tapi untuk kasusku,
Itu sudah ketinggalan kereta.
Upaya hukum telat
Upaya diplomasi politik tak dirintis dari awal
Dan tidak ada pembelaan di pengadilan –
Ya, ya, harus aku jalani
Hukuman pancung.
Ya, ya, aku harus dipancung!
Seorang pengacara dikirim
Untuk membantuku,
Aku dengar cerita
Rakyat Indonesia membelaku.
Bagaimanapun, aku pahlawan devisa.
Pak Menteri panjang lebar pidato
Akan berjuang membebaskanku
Tapi semuanya terlambat sudah.
Aku terus melawan walau sendiri
Dengan segala cara.
Kepada pengacara kutuliskan
Urutan peristiwaku
Dalam membela kehormatan
Yang oleh hukum dunia disebut pembunuhan.
Aku mohon itu disiarkan seluas-luasnya.
Aku ikhlas mati tapi memberi makna
Aku ikhlas mati tapi mempunyai arti.
Selebihnya, aku pasrah;
Aku hanya mohon bisa bertemu anakku Aisah
Untuk terakhir kali.
Ingin kutanyakan ikhwal sekolahnya –
Tapi permintaan itu pun susah dipenuhi.
Aku hanya bisa titipkan surat
Salam untuk suamiku
Dan pesan khusus agar kelak
Anakku satu-satunya
Tidak menjadi TKW sebelum ada perlindungan hukum.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti TKW sudah jadi industri
Pengiriman TKW tak bisa distop
Jika tak ingin pengangguran merajalela)

/11/
Aku sudah tiada
Tetapi masih teringat malam
Sebelum kepala
Dipisahkan dari tubuhku.
Di malam terakhir itu aku teringat sawah di kampung.
Aku, suami, dan anakku bersantap di saung,
Aisah, kata suami kepada anakku,
Ibumu akan ke Saudi,
Bekerja di sana;
Nanti Ibu akan pulang membawa rejeki
Dan kita akan membeli sawah ini
Yang lebih besar dari sawah kakek.
Anak itu tampak kegirangan
Sejak dulu ia senang
Duduk di saung.
Di malam terakhir
Aku terus berdzikir
Kuharapkan ada mukjizat
Menyelamatkan diriku.
Bayangan suami dan anakku
Berseliweran dalam benakku
Mengaduk-aduk perasaanku.
Ampun ya Allah
Siapkan hatiku
Ampun ya Allah
Siapkan jiwaku.
Terus aku berdzikir
Hingga tak ingat apa-apa lagi.
Dalam dzikirku malam terakhir itu
Terbayang suamiku datang ke kamarku
Dan dibisikkannya,
Aminah, betapa bangga aku padamu:
Kau berjuang untuk keluarga
Membela kehormatan diri.
Guru ngaji di pesantren
Tak akan menyalahkanmu.
Meski besok dipancung
Kau tetap hidup di hatiku
Dan di hati Aisah, anak kita itu.
Coba kupeluk bayangan suamiku
Bayangan anakku
Hangat terasa – aku tersenyum
Dan itu senyumku yang terakhir.
***
1.       Setiap bulan ada 60.000 TKI yang berangkat ke luar negeri, atau rata-rata per hari 2000 TKI. Mereka bekerja di berbagai negara: Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Taiwan, Kuwait, Yordania, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Bahrain. Sumber: www.bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/2296-jumhur-sertifikasi-kompetensi-instrumen-lindungi-tki-plrt.html.
2.       Iming-iming gaji besar menjadi salah satu daya tarik bagi para calon tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk meninggalkan tanah air dan bekerja di luar negeri. Gaji TKW di Arab Saudi per bulan 800 riyal, di Singapura 450 dolar, di Hongkong 3.740 HK (Rp 4.114.000). Sementara di Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Bahrain, sebesar 220 USD per bulan. Sumber: http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/5464-ade-adam-noch–lima-tahun-bnp2tki-memudahkan-pelayanan-tki.html.
3.       Para tenaga kerja Indonesia di luar negeri memang sering disebut pahlawan devisa, karena menyumbang banyak sekali devisa kepada negara. Bank Indonesia mencatat jumlah total remitansi TKI sepanjang 2010 yaitu US$ 6,73 miliar. Pengiriman uang dari TKI selama kuartal pertama tahun 2011 mencapai US$1,6 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Sumber: http://www.neraca.co.id/2011/06/23/
moratorium-tki-berdampak-luas-ke-daerah/.
4.       Sepanjang tahun 2010 Indonesia mengirimkan 570.285 orang TKI ke seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 60% berangkat ke Arab Saudi (sebanyak 228.890 orang) dan Malaysia (sebanyak 115.624 orang). Sumber: http://fokus.vivanews.com/news/read/228793 -sejumlah-negara-tujuan-tki-pengganti-arab.
5.       Para TKW di Arab Saudi tidak diizinkan ke luar rumah, berbeda dengan TKW yang bekerja di Hongkong, Korea, atau Taiwan, yang setiap akhir pekan bisa menikmati indahnya taman kota, berjalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan, atau bertemu dan mengobrol dengan teman-temannya sesama TKW. Sumber: http://www.duniatki.com/
aturan_kerja_di_luar_negeri-informasi3_tki_duniatki-2. html; lihat juga sebagai perbandingan,
http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/06/03/kebebasan-hong-kong-surganya-para-tkitkw/
6.       Siksaan seperti yang dialami Aminah telah menjadi cerita umum di kalangan para TKW. Sepanjang tahun 2010, sebanyak 1.075 TKW Indonesia disiksa majikannya. Tak jarang, penyiksaan tersebut berujung kematian. Migrant Care mencatat dari tahun 2007 hingga 2011 ada 10 orang TKW di berbagai negara yang meninggal karena disiksa majikannya. Mereka yang meninggal karena kekerasan oleh majikannya ini ialah: (1). Kurniasih TKW asal Pati Jawa Tengah, meninggal karena disiksa di Malaysia tahun 2007; majikan bebas. (2) Animah binti Jari, TKW asal Banten, meninggal karena disiksa di Kuwait tahun 2007 (3). Siti Tarwiyah, TKW asal Ngawi, meninggal karena disiksa di Arab Saudi, Agustus 2009. Kasus hukum berhenti karena kompensasi (4). Susmiyati, TKW asal Pati, meninggal karena disiksa di Arab Saudi, Agustus 2009; kasus hukum berhenti karena kompensasi (5). Munti binti Bani, TKW asal Jember, meninggal karena disiksa di Malaysia, 2009 (6). Fauziah, TKW asal Cibubur Jakarta, meninggal karena disiksa dan korban kekerasan seksual di Malaysia, Mei 2010 (7). Kikim Komalasari, TKW asal Cianjur, meninggal karena disiksa dan jenazahnya dibuang di tempat sampah di Saudi Arabia, November 2010 (8). Sariah, TKW asal Indramayu, meninggal karena disiksa dan korban kekerasan seksual di Kuwait, 2010 (9). Ernawati, TKW asal Kudus, meninggal karena disiksa di Arab Saudi, Februari 2011 (10). Isti Komariah, TKW asal Banyuwangi, meninggal karena disiksa di Malaysia, Mei 2011. Sumber: http://headlines.vivanews.com/news/read/
229833-tiap-tahun–kekerasan-terhadap-tkw-meningkat.
Tapi banyak pula kasus TKW yang juga karena kesalahan TKW itu sendiri. Ada pula kasus TKW yang memang menggoda majikan pria. Ada pula kasus TKW yang pensiunan PSK (Penjaja Seks Komersil). Kasus TKW tidak hitam putih. Tidak semua kasus TKW disebabkan oleh kesalahan majikan.
7.       Para TKW yang mengalami nasib seperti Aminah biasanya melarikan diri, tapi itu sangat beresiko. Hal ini pernah dialami Rusniah binti Azis, TKW asal Karawang, Jawa Barat, yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Abdullah Muhammad Al-Sah, di Arab Saudi. Rusniah tewas terjatuh dari lantai tujuh ketika berusaha kabur dari rumah majikannya pada 17 Mei 2011. Maskendi binti Kulin, TKW asal Sumbawa Besar, NTB, juga pernah kabur dari majikannya di Arab Saudi pada Juli 2009 karena tak tahan dengan siksaan kedua majikannya. Selama 2 tahun 6 bulan ia belum digaji sama sekali. Kondisinya memprihatinkan, ada luka bakar di tangan, muka, dan punggung. Mukanya cacat karena dipukul dengan gayung sayur yang panas sehingga kulit terbakar; giginya rontok disabet selang air. Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/
2011/06/25/55843/TKW-Asal-Karawang-Tewas-Terjatuh-dari-Lantai-7-Rumah-Majikan.
8.       Dalam MoU yang ditandatangani dengan majikan tidak disebutkan bahwa paspor tetap akan dipegang Aminah. Pejabat-pejabat kita yang berwenang tidak memikirkan soal ini, yang berdampaknya sangat besar pada orang-orang yang bernasib seperti Aminah. Akibatnya, apapun masalah yang dia alami di rumah itu tidak akan bisa mengadu kepada siapapun di luar rumah. Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/
umum/11/06/22/ln6b3j-majikan-arab-gemar-tkw-indonesia-karena-penurut-dan-tak-gampang-mengeluh.
9.       Hukum di Arab Saudi menerapkan langsung ayat al-Quran surat al-Baqarah ayat 178 yang menyebutkan tentang hukum qisas. (Nyawa) orang merdeka dibayar dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Sebenarnya ayat ini diturunkan untuk melenyapkan budaya jahiliyah yang berkembang sebelum datangnya Islam. Pada waktu itu, jika seseorang dibunuh, maka sekeluarga si pembunuh akan dibunuh pula. Ayat ini bermaksud menekankan pentingnya asas kesaimbangan, satu nyawa berbalas satu nyawa. Namun ayat itu juga mengandung perkecualian. Apabila keluarga korban memaafkan, maka eksekusi batal dijalankan. Sebagai bentuk permohonan maaf, pihak pembunuh harus mengganti dengan denda berupa 100 ekor unta, 40 di antaranya yang sedang hamil. Kalau dirupiahkan angkakanya mencapai Rp 4,7 miliar. Namun, ada pula hadist yang diriwayatkan Ibnu Hiban dan Imam Al Baihaki yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda; harus diberikan maaf apabila seseorang membunuh karena terpaksa.


0 komentar:

Sora Karista. Diberdayakan oleh Blogger.