Sabtu, 08 September 2012

Sapu Tangan Fang Yin


/1/Ditatapnya sekali lagi sapu tangan itu,tak lagi putih; tiga belas tahun berlalu.Korek api di tangan, siap membakarnyamenjadi abu masa lalu.Namun, sebelum api menjilat, hatinya bergetar;Ditiupnya api itu – terdiam ia dalam senyap malam.Dibukanya jendela kamar: kelam langit Los AngelesYang dihuninya sejak 13 tahun lalu.Terlintas ingatan minggu pertama di kamar iniKetika setiap malam ia menangis;Ya, panggil saja ia Fang Yin – hamparan rumput harum artinya.Nama sebenarnya dirahasiakan, menunggu sampai semua reda.Waktu itu usianya dua puluh duaTerpaksa kabur dari Indonesia, negeri kelahirannyaSetelah diperkosa segerombolan orangTahun 1998, dalam sebuah huru-hara.Apa arti Indonesia bagiku? bisik Fang Yin kepada dirinya sendiri.
Ribuan keturunan Tionghoa1 meninggalkan Indonesia:Setelah Mei yang legam, setelah Mei yang tanpa tatananSetelah Mei yang bergelimang kerusuhan.2/2/Hari itu negeri berjalan tanpa pemerintahHukum ditelantarkan, huru-hara di mana-manaYang terdengar hanya teriakanKejar Cina! Bunuh Cina! Massa tak terkendalikan.Langit menghitam oleh kobaran asapDari rumah-rumah dan pertokoan –Semua terkesima, tak ada yang merasa siapMelindungi diri sendiri dari keganasan.Ada keluarga yang memilih bunuh diriDi hadapan para penjarah yang matanya bagai apiYang siap menerkam; yang siap merampas apa sajaYang siap memperkosa perempuan tak berdaya.Apa arti Indonesia bagiku? bisik Fang Yin
Kepada dirinya sendiri, yang hidupnya telah dirampasYang tak lagi bisa merasakan sejuknya anginSebab kebahagiaannya tinggal ampas.Waktu itu terdengar anjing melolong panjangSeperti minta tolong aparat keamanan;Mereka melemparkan binatang itu ke kolamMenggelepar-gelepar: airnya pun memerah./3/Fang Yin sekeluarga mengungsi ke AmerikaBersama sejumlah warga keturunan Tionghoa;Mereka tinggal berdekatan di New York, Philadelphia,Los Angeles, New Jersey – bagaikan perkampungan Indonesia.Minggu-minggu pertama di AmerikaFang Yin belum sadar apa sebenarnya yang terjadiRaga dan jiwanya lemah, perlu pemulihan dari dahsyatnya trauma,Ke mana pun ia pergi, orang tuanya dan seorang psikolog mendampingi.Setelah tiga bulan hidupnya menjadi normal.Ia pun ikut kursus bahasa Inggris, ingin meneruskan kuliah.Namun Fang Yin sudah berubah –Ia tak lagi ceria, suka menyendiri saja.Ketika seorang pemuda Korea mendekatinyaFang Yin malah menjauh, khawatir kalau-kalau tak berbedaDengan Kho, pacarnya dulu di Jakarta,Yang meninggalkannya setelah tahu ia diperkosa.13 tahun sudah ia di Amerika, tumbuh keinginannyaUntuk pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia;Waktu itu usianya menginjak tiga puluh limaIa ingin memulai hidup baru, membangun keluarga.Ingin punya suami, ingin punya anakRindu kampung halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkanRindu teman-teman remaja, rindu masa-masa menghabiskan waktuJalan-jalan dan bercanda ria di Mal Citraland.Tapi kemarahannya pada Indonesia masih menyalaTrauma diperkosa masih berujud horor baginya.Fang Yin membatalkan niatnya untuk kembaliBaginya Indonesia masa silam yang kelamKenangan pada Kho membekas di benaknya.Tak ia ketahui di mana kini pemuda itu berada.Dibukanya secarik surat yang sejak 12 tahun laluAkan dikirimkannya ke pemuda itu, tapi selalu dibatalkannya.Kho, apa kabarmuAku sendiri di siniDulu katamu akan menemanikuTerutama di kala susahItu sebabnya kuterima cintamuAku sangat susah hati, KhoAku ingin dengar suaramu.Ia sering coba menghubunginya lewat teleponTak pernah ada jawaban, bagai raib begitu saja.Mungkin Kho juga mengungsi, tapi entah ke manaFang Yin tidak pernah tahu lagi tentangnya.Satu-satunya kenangan dari KhoYang sampai sekarang masih disimpannyaAdalah selembar sapu tanganYang saat ini ia genggam erat-erat, merisaukannya./4/Ingin ia bakar selembar kenangan ituSaksi satu-satunya, sisa trauma masa laluSelama ini disimpannya diam-diam setangan ituTak ingin ada orang lain mengganggu.Ditatapnya kembali sapu tangan ituIa sentuh permukaannya, masih terasaBekas air mata yang tetes demi tetes membasahinya duluBagian abadi dari hidupnya.Setahun lalu psikolognya, warga Amerika, bilangIa nyaris sembuh. Dan akan lengkap sembuhnyaJika ia ikhlas menerima masa lalu yang telah hilangSebagai bagian dari permainan nasib manusia.Kepada psikolog itu Fang Yin berhutang nyawa.Beberapa kali perempuan itu nyaris bunuh diriTetapi karena ia menemaninya setiap hariJiwa anak keluarga kaya itu pun beranjak sembuh kembali.Ia ulang-ulang mantra psikolog itu,Ia coba pahami apa yang ada di balik kata-katanya:Terimalah kenyataan apa adanya!Berdamailah dengan masa lalu.Di bulan ke empat, ia mulai rasakan khasiatMasa lalu tidak lagi menjadi bom di kepalaNamun kenangan itu bagai tawon yang tak henti menyengatTidak dengan mudah minggat./5/Ditatapnya kembali sapu tangan itu:Tampak tayangan sinema di permukaannya:Tergambar rumahnya di Kapuk, Jakarta UtaraSebuah bangunan yang tinggi temboknya.Berjajar di samping rumah-rumah lainYang pagarnya seakan berlombaMana yang paling tinggi, mana yang paling kokoh.Semua dihuni warga keturunan Tionghoa.3Namun, tembok setinggi apa punTernyata tak mampu mengamankannyaTak mampu membendung gelombang huru-haraYang membakar Jakarta.Hari itu Selasa 12 Mei 1998.Fang Yin tidak kuliah, di rumah saja;Ia hanya menonton televisiSemuanya menyiarkan berita itu-itu juga.Mimbar bebas di kampus-kampusUnjuk rasa di mana-manaMenuntut Soeharto turunDianggap tak mampu pulihkan ekonomi negara.Perusahaan-perusahaan gulung tikarPengangguran merajalelaHarga barang-barang pokok melambungNilai rupiah semakin terpuruk.Gerakan mahasiswa yang mula-mula hanya unjuk rasaGerakan Reformasi mula-mula namanyaSegera berubah menjadi gelombang besar demonstrasiTak bisa dibendung lagi.Sore hari, Selasa 12 MeiDi depan Universitas TrisaktiEmpat mahasiswa tewas tertembak:Malam pun mencekam, gejolak merebak.Rabu 13 Mei 1998Ribuan mahasiswa berkumpulDi Universitas TrisaktiDuka cita berbaur teriakan kerumunan massa.Tak diketahui dari mana rimbanyaSiang hari semakin dipenuhi massaDan, tiba-tiba saja, sekelompok orangMembakar ban-ban bekas di tengah jalan.Asap hitam pun membubung tinggiTruk yang melintas dihentikan massaDan teriakan bergema, semakin liar:Bakar! bakar!Massa bagai kerumunan semutMerangsek ke tengah-tengah kotaTurun dari truk-truk yang muncul tiba-tibaEntah dari mana datangnya.Teriakan pun berubah arahnyaDan terdengar Bakar Cina! Bakar Cina!Gerombolan yang tegap dan gagahMenyisir toko, kantor, dan pemukiman Tionghoa.Mereka memasuki rumah-rumah kaum sipit mataMenyeret para penghuninya, menghajar para priaMemperkosa perempuannya. Dan semakin siangSemakin tak terbilang jumlahnya.Ditemani seorang pembantu, Fang Yin menyaksikanAdegan demi adegan horor itu di televisi. Ketakutan menyergapnya!Ia telepon ayahnya di kantor, tak bisa pulangJalanan dipenuhi massa, tak terbilang./6/Hantu yang ditakutinya pun menjelma –Didengarnya suara-suara memekakkan telingaSegerombolan orang merusak pagar rumahnyaMereka masuk dan membunuh anjing herdernya.Pembantunya sempat berteriak, lalu terkaparOleh para berandal itu ia dihajar.Fang Yin lari mengunci diri di dalam kamarBerteriak, melolong, meminta tolong.Tak ada yang mendengar. Mungkin tetangganyaJuga tengah menghadapi ketakutan yang sama.Pintu kamar Fang Yin didobrak, masuklah lima priaBertubuh tegap – ke ranjang mereka menyeretnya.Rambutnya dijambakPakaiannya dikoyak-moyakDan dengan kasarMereka pun memukul, menampar.Fang Yin pun menjerit, mohon ampun,JanganJangan
Saya punya uang.Ampun. Jangan.Bagai sekawanan serigala mereka:Seseorang memegang kaki kirinyaSeorang lagi merentang kaki kanannyaYang lain menindih tubuhnya.Wahai, terenggut sudah kehormatannya!Yang lain bersiap menunggu giliranGanas seringainya, tak ada belasBagi seorang perawan.Fang Yin meronta sebisa-bisanyaBerteriak sekuat-kuatnyaBergerak-gerak mempertahankan kehormatannyaMemukul, menjambak sekenanya.Di antara sakit dan cemas yang tiada taranyaSempat didengarnya para berandal tertawaMelahapnya: Hihihihi, hahahahaFang Yin pun kehilangan kesadarannya./7/Fang Yin, ya, Fang Yin yang malang –Ketika dibukanya mataDidapatinya dirinya terbaringDi rumah sakit.Saat itu Kho, pacarnya, datang menjengukMemberinya sapu tangan;Fang Yin menghapus tetes air matanya –Sapu tangan itulah yang setia menyertainya.Tersimpan di sapu tangan itu tetes air matanya yang pertamaTetes air matanya yang keduaTetes air matanya yang kesepuluhTetes air matanya yang keseribuTersimpan pula di sana malam-malamnya yang sepiKetika ia meminta Tuhan membuatnya mati sajaKetika ia merasa diri lunglai, tak lagi bertulangSapu tangan itu merekam seperti buku diary.Rina, sahabat dekatnya, membelainyaYang menyertai Kho menjenguknya.Rina sangat memahaminya,Rina banyak membantunya.Infus mengalir di sebelah tangannyaAyah dan ibunya menangis memeluknya;Fang Yin mengingat-ingat apa yang terjadiMembayangkan apa yang telah dialami.Memar tersebar di sekujur tubuhDan teringatlah: ia telah diperkosa!4Fang Yin menjerit kuat sekaliSeisi rumah sakit mendengarnya,Tolongtolong
Ampun, ya TuhanTolong akuAmpun, ampun…/8/Jakarta lautan api! Di mana pula aparat keamanan?Tak tampak sama sekali.Kerusuhan pun menjalar liarBagaikan api, bagaikan ular.Warga Jakarta terkesima.Begitu banyak orang-orang datangBegitu saja, entah dari manaTak ada yang kenal mereka.Didrop truk di lokasi tertentuMereka kekar dan tegap –Mereka merusak, mereka membakar,Mereka menjarah – dan massa pun terpancing.Dan ketika kerumunan semakin banyakDan ketika tak ada lagi aturan yang tegakPara penjarah meninggalkan lokasi –Massa pun mengamuk tanpa sebab yang pasti.Mereka berebut menjarah, saling mendahuluiTunggang-langgang, tindih-menindih terjebak apiDalam bangunan yang menyala-nyalaTerpanggang hidup-hidup – dan tewas sia-sia.5/9/Fang Yin dan keluarga tidak paham politikApa lagi masalah militer.6Mereka cari nafkah berdagang sajaDan ketika bingung, tak tahu harus mengadu ke mana.Bumi Indonesia gonjang-ganjing, langit berkilat-kilatSedangkan Presiden Soeharto berada di Mesir sana;Situasi menjadi semakin parahMenanti Sang Presiden kembali.Tahun 1998, tanggal 15 MeiPukul 4.30 dini hariSoeharto menyatakan tak bersedia mundur;Ketegangan memuncak, ketenteraman pun hancur.Warga Tionghoa yang mulai tenangKembali khawatir kalau huru-hara kembali datang;Mereka jual barang-barang mereka, banting hargaBersiap-siap hengkang ke mancanegara.Di rumah sakit, Fang Yin masih terbaring lemah.Ia menduga kerusuhan akan kembali terjadiDan orang-orang tegap yang brangasanAkan memperkosanya lagi.Papi, apa salah saya? Kenapa saya diperkosa?Apa salah saya, Papi?Ayahnya tak menjawab,Dipeluknya anaknya erat-erat.Kho, pacarnya, terdiam dan mulai dingin sikapnya.Fang Yin menjerit-jerit –Seorang guru spiritual coba menghentikannyaMengajarkan keikhlasan Konghucu.Disampaikannya hakikat shio;Fang Yin adalah gadis Naga, dan 1998 adalah Macan –Naga kurang beruntung di tahun ituDan harus menerima dengan dada terbuka.Diuraikannya prinsip Ren DaoAjaran tentang hubungan antarmanusia;Ya, sebuah kitab kecil, Kitab Meng Zi:Dan dibacakannya,Dengarkan:Yang tidak susila jangan dilihatYang tidak susila jangan didengarYang tidak susila jangan dibicarakan.Dengan penuh kasih dipegangnya kening Fang YinIa tatap matanya, dialirkannya enerji,Ditumbuhkannya semangat hidup,Dan dengan tenang dikatakannya,Fang Yin, Ini bencana sudah terjadiLupakan saja. Mulailah hidup baru –Keikhlasan akan mengalahkan kemalanganKeyakinan akan mengalahkan derita.Di televisi rumah sakit, Fang Yin mendengar diskusi:Dalam sejarah Indonesia, warga TionghoaAcap jadi korban amuk massa.7Uhhhh Fang Yin tidak paham sejarah./10/Demikianlah seminggu setelah peristiwaFang Yin dan keluarga terbang ke Amerika;Bukan karena tidak cinta Indonesia, kata ayahnya,Tetapi keadaanlah yang telah memaksa.Ayah bercerita tentang kerabat kakek buyut merekaPejuang kemerdekaan, sahabat Bung Karno;Sie Kok Liong namanyaPemilik Gedung Kramat 106.Di gedung itu dulu diselenggarakan Kongres PemudaYang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928;Apa gerangan arti Indonesia bagi Fang Yin dan keluarganya?Mereka harus hengkang demi keselamatan jiwa./11/Kini 13 tahun setelah musibah ituFang Yin mendengar Indonesia sudah stabil kembali;Beberapa warga keturunan Tionghoa menjadi menteriTradisi Imlek diberi hak hidup seperti dulu lagi.Barongsai bebas melanggak-lenggok,Koran berbahasa Cina sudah boleh beredarProgram berbahasa Cina ditayangkan di televisi.Agama Konghucu sudah diakui.8Komunitas Tionghoa Indonesia di manca negaraKadang jumpa, berbagi cerita tentang Imlek dan segala rupa;Sudah banyak yang ganti negeriMenjadi warga Amerika, Singapura, dan lain-lainnya.Tampaknya, bagi mereka Indonesia adalah masa silamYang kelam hitam;Namun, Imlek masih tetap menyatukan merekaWalau berbeda agama dan negara.Ayah Fang Yin teguh pendirianPantang jadi warga negara lain;Kepada Fang Yin ayahnya sering berpesanDan mewanti-wanti,Fang Yin, kau anak Indonesia sejatiJangan pindah menjadi warga lain negeri.Ayahnya mendapatkan rezeki di IndonesiaPada waktunya harus kembali ke sana.Dan ia tentu saja marah ketika diketahuinyaFang Yin sudah pindah warga negara;Paspor Amerika Serikat sudah di tangannya,Prosesnya dibantu oleh seorang pengacara.Fang Yin banyak diberi tahu ayahnya tentang IndonesiaAgar tumbuh kembali cinta tanah airnyaNegeri yang sejak dulu mereka bela –Sejak zaman pergerakan yang melibatkan buyutnya.Fang Yin adalah gadis yang rajin membaca:Perpustakaan menyediakan segala macam buku,Buku menyediakan segala macam ilmu,Dan ilmu akan bisa mengubah manusia.Tetapi gadis itu sudah pasti dengan dirinyaTak ingin melihat Indonesia lagi;Ayahnya sudah putus asaMeyakinkan Fang Yin untuk kembali.Dan ketika Ayah pulang ke IndonesiaFang Yin tetap berkeras hatiUntuk tinggal di Amerika Serikat sendiri –Budaya modern pegangannya, kebebasan sandarannya.Fang Yin suka perlindungan hukumItu sebabnya ia marah kepada Indonesia;Fang Yin tak suka kekerasanItu perkara ia benci Indonesia.Namun, karang pun bisa goyah oleh ombak besar:Samudra bisa menjadi padang pasirApa yang tak berubah di bawah Matahari?Nasihat ayahnya sudah begitu dalam berakar.Amerika hanyalah tempat sementara untuk singgahTapi kita lahir di Indonesia, jadi mati sebaiknya di sana –Luka masa silam harus dilawanCinta Ibu Pertiwi harus ditumbuhkan.Dan selangkah demi selangkah, dengan susah payahKemarahan Fang Yin pun mulai redaWalau kesedihan atas huru-hara ituMasih membayang seperti hantu.Fang Yin mulai tumbuh jati diriBertahun buku filsafat, sastra, agama, politik dilahapnya;Ilmu pengetahuan memahatnyaDerita panjang masa silam justru melezatkan sikap hidupnya.Dan sesudah tiga belas tahun berlaluFang Yin mulai merasakan rindu.Terkenang kampung halaman, masa remaja di Jakarta;Tak sadar, disebutnya nama Albert Kho, cinta pertamanya.Di manakah engkau kini, pujaan hatiku?Sejak kepindahannya ke Amerika,Mereka tak pernah lagi menjalin hubungan;Hanya sapu tangan itu yang kini tersisa.Selentingan ia dengar kabar, Kho sudah berkeluargaRina nama istrinya, dulu sahabat kental Fang Yin –Ia juga seorang keturunan Tionghoa;Keduanya telah menjadi Muslim dan Muslimah.Terbayang olehnya saat Kho dan RinaMenjenguknya di rumah sakit dulu;Fang Yin hanya bisa diam, menyimpan kepedihanDitinggal orang yang sudah sangat lekat di hati./12/Fang Yin kembali berlutut di hadapan sapu tangan,Korek api ia nyalakan –Ingin dibakarnya sisa kenangan pacarnya dulu:Masa silam harus segera dihapus dari ingatan.Albert Kho harus pula aku lupakan, katanya.Tangan yang memegang korek kembali gemetar;Ia ketakutan, seolah api itu akan menghanguskan dirinya;Dan api pun tak jadi berkobar.Fang Yin menangis.Mula-mula perlahan, lama-lama semakin mengiris –Ditahan-tahankannyaAgar tak ada orang lain mendengar.Ia nyalakan lagi korek api –Dan tanpa pikir panjang, ia bakar sapu tangan itu;Api menyala, sapu tangan terbakarIa melihat seluruh dirinya yang lama menjadi abu.Masa silam terbakar,Derita panjang ikut terbakar,Cinta pada Kho terbakarCemburu pada Rina pun lenyap terbakar.Dan kemarahannya pada Indonesia?Terbakar sudah, bagai ritus penyucian diri;Semesta seolah berhentiWaktu senyap – lama sekali.Dan sapu tangan pun jadi seonggok abu.Fang Yin merasa lahir kembaliJadi perempuan yang sama sekali baruBersih dari kengerian masa lalu.Air mata menetes mengiringi api,Sapu tangan tak ada lagi.Ia kini berhasil berdamai dengan masa silamIa kini berhasil menjadi Fang Yin yang baru.Khusyuk ia berdoa: Ya Tuhan, tumbuhkan keberanianAku berniat kembali ke Ibu PertiwiIjinkan kuhabiskan sisa hidup di sanaTanah yang melahirkanku, jadikan juga tanah yang nanti menguburku./13/Apa arti Indonesia bagi Fang Yin?Lahir di sana tak ia mintaKetika trauma masih mengangaIndonesia hanya kubangan luka.Kini ia melihat Indonesia dengan mata berbedaNegeri itu menjadi cermin dirinya yang terus berubahIa ingin seperti buyutnyaLahir, cari nafkah, berjuang lalu mati di sana.Indonesia masuk lagi dalam kalbunyaSeperti nyiur yang melambai-lambaiMengimbaunya untuk segera pulang!Fang Yin merasakan rindu, menitikkan air mata.Menurut kalender Cina, 2012 adalah Shio NagaAkan baik peruntungannya;Ia rindu masa remaja,Ia rindu tempat dulu menghabiskan senja di Jakarta.13 tahun lalu, ia datang ke AmerikaMembawa kemarahan yang sangatMembawa dendam kesumatKepada Indonesia.Kini ia ingin pulang, rindunya membaraIa ingin Indonesia seperti dirinya: menang melawan masa laluMusibah dan bencana datang tak terdugaYang penting harus tetap punya mimpi.Ini Indonesia baru, katanya, kata mereka.Ya, ya – niatnya pun teguh: Aku segera kembali ke sana!Aku segera pulang ke sana!Aku segera hidup di sana!***1.      Dalam puisi ini, kata Tionghoa dan Cina merujuk pada kelompok etnis yang sama. Tionghoa diekspresikan sebagai ucapan netral. Sedangkan Cina lebih merupakan “umpatan negatif” yang dilontarkan massa dalam kisah huru-hara.2.      Tercatat sekitar 70.000 warga keturunan etnis Cina meninggalkan Indonesia pascakerusuhan Mei 1998 itu. Lihat, Ivan Wibowo (ed.), COKIN: So What Gitu Lho! (Jakarta: Komunitas Bambu-Jaringan Tionghoa Muda, 2008), h. viii.3.      Kawasan-kawasan eksklusif yang menjadi hunian warga keturunan Cina mirip dengan kebijakan penjajah Belanda di masa lalu. Mereka sengaja ingin memisahkan orang-orang Cina supaya tidak berinteraksi dengan pribumi. Sebab kalau itu dibiarkan, ia bisa menjadi kekuatan sosial yang besar dan membahayakan penjajah. Kebijakan ini disebut Wijkenstelsel di mana Belanda menciptakan pemukiman etnis Cina atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia, Era Kolonial. Anehnya, model pemukiman seperti itu tetap dilanjutkan sampai sekarang.4.      Pada 13-14 Mei itu, banyak gadis Cina yang bernasib sama dengan Fang Yin. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di Bandung, Solo, Medan, Makassar dan kota-kota lain. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mencatat 78 orang perempuan Cina menjadi korban perkosaan, 85 orang mengalami kekerasan seksual, disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam. Korban yang meninggal dunia tercatat sekitar 1.217 orang (1.190 orang di antaranya meninggal akibat terbakar), luka-luka 91 orang, dan hilang 31 orang. Lihat dalam Ester Indahyani Jusuf, Hotma Timbul, Olisias Gultom, Sondang Frishka, Kerusuhan Mei 1998 Fakta, Data dan Analisa: Mengungkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Jakarta: SNB dan APHI, 2007), h. 177.5.      Sehari setelah pecah kerusuhan 13 Mei, para jenderal pergi ke Malang untuk menghadiri upacara komando pengendalian (Kodal) Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dari divisi I ke divisi II. Huru-hara masih berlangsung, korban masih bergelimpangan. Ketika kerusuhan itu terjadi, Presiden Soeharto sedang berada di Kairo, Mesir, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-15. Ia dengan penuh percaya diri meninggalkan tanah air pada 9 Mei 1998 karena yakin tak akan terjadi peristiwa besar seperti kerusuhan atau kudeta tentara, karena pada saat itu demonstrasi sering terjadi dan menjadi kegiatan rutin. Lihat, misalnya, Tjipta Lesmana, Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa (Jakarta: Gramedia, 2009), h. 120.6.      Para pengamat menyebutkan, saat itu sedang terjadi rivalitas Prabowo dan Wiranto. Letjen TNI Prabowo yang pada saat itu menjabat Pangkostrad ingin mengalahkan seniornya Panglima ABRI Wiranto. Peristiwa Trisakti dituduhkan kepada Prabowo. Tapi pihak Prabowo membantahnya. Prabowo juga dituding terlalu dekat dengan tokoh-tokoh reformasi, dan ditengarai menyetujui tuntutan Soeharto mundur. Katanya, ia sedang mematangkan situasi untuk ambil alih kekuasaan. Sementara itu, Wiranto dianggap tetap menginginkan Soeharto bertahan. Maka ketika Ketua MPR Harmoko menuntut Soeharto mundur, Wiranto mengatakan bahwa itu pendapat pribadi Harmoko yang sama sekali tidak konstitusional. Begitu banyak kabar burung yang beredar. Kajian menarik menyangkut hal ini lihat, misalnya, Dian Andika Winda dan Efantino Febriana, Rivalitas Wiranto-Prabowo : Dari Reformasi 1998 hingga Perebutan RI-1 (Yogyakarta: Bio Pustaka, 2009).7.      Beberapa kasus kerusuhan anti-Cina yang pernah terjadi yaitu: (dikutip dari http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/11/riwayat-kerusahan-rasial-di-indonesia/ Lihat juga, Karta Raharja Ucu, “Tionghoa dan Sejarah Kelam Kerusuhan di Indonesia”, http://m.today.co.id/index.php?kategori=nasional&sub=nasional&detail=8182)Bandung, 10 Mei 1963. Kerusuhan anti-Cina terbesar di Jawa Barat. Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung antara mahasiswa pribumi dan non-pribumi. Keributan berubah menjadi kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota-kota lain seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.Pekalongan, 31 Desember 1972. Terjadi keributan antara orang-orang Arab dan keturunan Cina. Awalnya, perkelahian yang berujung terbunuhnya seorang pemuda Cina. Keributan terjadi saat acara pemakaman.Palu, 27 Juni 1973. Sekelompok pemuda menghancurkan toko Cina. Kerusuhan muncul karena pemilik toko itu memakai kertas yang bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus dagangan.Bandung, 5 Agustus 1973. Kasus serempetan gerobak dengan mobil berbuntut perkelahian. Kebetulan penumpang mobil orang-orang Cina. Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana.Ujungpandang, April 1980. Suharti, seorang pembantu rumah-tangga meninggal mendadak. Kemudian beredar desas-desus: Ia mati karena dianiaya majikannya Cina-nya. Kerusuhan rasial meledak. Ratusan rumah dan toko milik warga keturunan Cina dirusak.Medan, 12 April 1980. Sekelompok mahasiswa USU (Universitas Sumatera Utara) bersepeda motor keliling kota, sambil memekikkan teriakan anti-Cina. Kerusuhan itu bermula dari perkelahian.Solo, 20 November 1980. Kerusuhan melanda kota Solo dan merembet ke kota-kota lain di Jawa Tengah. Bermula dari perkelahian pelajar Sekolah Guru Olahraga, antara Pipit Supriyadi dan Kicak, seorang pemuda keturunan Tionghoa. Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik orang-orang Cina.Surabaya, September 1986. Pembantu rumah tangga dianiaya majikannya yang keturunan Cina. Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya. Mereka melempari mobil dan toko-toko milik orang-orang Cina.Pekalongan, 24 November 1995. Yoe Sing Yung, pedagang kelontong, menyobek kitab suci al-Quran. Akibat ulah penderita gangguan jiwa itu, masyarakat marah dan menghancurkan toko-toko milik orang-orang Cina.Bandung, 14 Januari 1996. Massa mengamuk seusai pertunjukan musik Iwan Fals. Mereka melempari toko-toko milik orang-orang Cina. Pemicunya, mereka kecewa tak bisa masuk pertunjukan karena tak punya karcis.Rengasdengklok, 30 Januari 1997. Mula-mula ada seorang keturunan Cina yang merasa terganggu suara beduk Subuh. Percekcokan terjadi. Masyarakat mengamuk, menghancurkan rumah dan toko Cina.Ujungpandang, 15 September 1997 Benny Karre, seorang keturunan Tionghoa dan pengidap penyakit jiwa, membacok seorang anak pribumi, kerusuhan meledak, toko-toko Tionghoa dibakar dan dihancurkan.Februari 1998 Kraksaan, Donggala, Sumbawa, Flores, Jatiwangi, Losari, Gebang, Pamanukan, Lombok, Rantauprapat, Aeknabara: Januari – Anti TionghoaKerusuhan Mei 1998 Salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang masyarakat Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998.5-8 Mei 1998 Medan, Belawan, Pulobrayan, Lubuk-Pakam, Perbaungan, Tebing-Tinggi, Pematang-Siantar, Tanjungmorawa, Pantailabu, Galang, Pagarmerbau, Beringin, Batangkuis, Percut Sei Tuan: Ketidakpuasan politik yang berkembang jadi anti Tionghoa.Jakarta, 13-14 Mei 1998. Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang dikembangkan oleh kelompok politik tertentu jadi kerusuhan anti-Cina. Peristiwa ini merupakan peristiwa anti-Cina terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sejumlah perempuan keturunan Tionghoa diperkosa.Solo, 14 Mei 1998. Ketidakpuasan politik yang kemudian digerakkan oleh kelompok politik tertentu menjadi kerusuhan anti Tionghoa.8.      Salah satu pencapaian penting ialah keluarnya UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia di mana dalam Pasal 2 disebutkan: “Yang menjadi warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.” Itu berarti eksistensi warga keturunan Cina semakin terlindungi secara hukum dan konstitusi.Sumber

0 komentar:

Sora Karista. Diberdayakan oleh Blogger.